Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Terima kasih, Washington, D.C.

Langkah kaki ke Washington, D.C. tidak pernah diawali oleh peta yang terencana rapi. Rangkaian peristiwa bergulir begitu saja, tanpa saya sadari bahwa hal-hal kecil itu diam-diam menggumpal menjadi satu bola pengalaman yang besar. Dulu, setiap hari di DC tampak biasa. Namun saat menengok ke belakang hari ini, barulah terasa bagaimana deretan peristiwa itu telah melempar saya ke suatu tempat, yang tak pernah ada dalam peta bayangan saya. Saya masih ingat bagaimana sebuah notifikasi undangan wawancara dari KBRI DC menyala di layar ponsel, memunculkan kebingungan dan kegembiraan yang bercampur aduk. Notifikasi itu hadir di saat saya tidak lagi bermimpi untuk berkelana jauh dari kampung halaman. Notifikasi itu tidak hanya kembali membangunkan mimpi lama, namun juga mendesakkan kemungkinan baru. Dari cecaran pertanyaan wawancara kerja, pengumuman diterima, proses mengurus paspor dan visa, sampai gemuruh mesin pesawat meninggalkan tanah Jakarta, pikiran saya masih tertinggal di belakang: bag...

Postingan Terbaru

Meja Makan Bu Febri

Seperti Ibnu Batutah, Saya Kembali ke Kairo

Ketika para pakar sudah tidak didengarkan lagi

Jangan Buat Resolusi Tahun Baru Sebelum Baca Ini!

Menelusuri Perjalanan Psikologis Seorang "Pria yang Mencuci Piring"

Review Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori

Guru-Guru Growth Mindset di Sekitar Saya

The Alchemist: Novel Sederhana yang Puitis dan Filosofis

Patepung Riung jeung Manshur Angklung

Kelakar Tinggal di Amerika tapi Gak Mahir Berbahasa Inggris