Terima kasih, Washington, D.C.
Langkah kaki ke Washington, D.C. tidak pernah diawali oleh peta yang terencana rapi. Rangkaian peristiwa bergulir begitu saja, tanpa saya sadari bahwa hal-hal kecil itu diam-diam menggumpal menjadi satu bola pengalaman yang besar. Dulu, setiap hari di DC tampak biasa. Namun saat menengok ke belakang hari ini, barulah terasa bagaimana deretan peristiwa itu telah melempar saya ke suatu tempat, yang tak pernah ada dalam peta bayangan saya. Saya masih ingat bagaimana sebuah notifikasi undangan wawancara dari KBRI DC menyala di layar ponsel, memunculkan kebingungan dan kegembiraan yang bercampur aduk. Notifikasi itu hadir di saat saya tidak lagi bermimpi untuk berkelana jauh dari kampung halaman. Notifikasi itu tidak hanya kembali membangunkan mimpi lama, namun juga mendesakkan kemungkinan baru. Dari cecaran pertanyaan wawancara kerja, pengumuman diterima, proses mengurus paspor dan visa, sampai gemuruh mesin pesawat meninggalkan tanah Jakarta, pikiran saya masih tertinggal di belakang: bag...







